Catatan Agen Bola: Final EFL Cup Antara MU dan Southampton

Jose Mourinho tampak emosional pasca Manchester United menekuk Southampton dengan kedudukan 3-2 di puncak EFL Cup. Suatu sikap yang layak dimaklumi lantaran ini merupakan trofi pertamanya buat Setan Merah. MU meraih kemenangan dengan kedudukan 3-2 atas Soton karena performa apik sang mesin gol Zlatan Ibrahimovic. Striker berumur 35 tahun ini memborong 2 dari 3 gol … Continue reading “Catatan Agen Bola: Final EFL Cup Antara MU dan Southampton”

Jose Mourinho tampak emosional pasca Manchester United menekuk Southampton dengan kedudukan 3-2 di puncak EFL Cup. Suatu sikap yang layak dimaklumi lantaran ini merupakan trofi pertamanya buat Setan Merah. MU meraih kemenangan dengan kedudukan 3-2 atas Soton karena performa apik sang mesin gol Zlatan Ibrahimovic. Striker berumur 35 tahun ini memborong 2 dari 3 gol MU. Sedangkan satu gol lainnya dicetak oleh spesialis laga Wembley, Jesse Lingard. 2 gol yang sempat menghidupkan harapan Soton tuk berpesta dibuat oleh pemain yang diimpor dari Napoli pada Januari lalu, Manolo Gabbiadini. Tidak sedikit catatan menarik pasca ajang MU vs Soton. Tetapi, agen bola hanya merangkum beberapa diantaranya. Apa saja? Penasaran? Simak selengkapnya:

Kesalahan Saat Sesi Pergantian Pemain

Entah apa yang dibayangkan pelatih Southampton, Puel pada menit 83. Ketika itu, Puel memilih tuk menarik keluar Manolo Gabbiadini yang bermain gemilang sepanjang pertandingan dan membikin dua gol. Sebagai gantinya, Puel memainkan Shane Long. Dari sisi taktikal, Long mempunyai kecepatan yang tinggi serta bisa memberi banyak push ke gawang MU. Semacam yang dilakukannya punggawa berkebangsaan Republik Irlandia itu ke gawang Liverpool di partai semifinal. Tapi, moral Gabbiadini lagi dalam kondisi yang bagus pasca mencetak gol. Alhasil, saat Soton kejebolan oleh gol Ibrahimovic di menit ke-87, Puel terpaksa melaksanakan pergantian panik. Striker Jay Rodriguez dimasukkan tuk mereplace Steven Davies. Tapi, tak banyak hal yang dapat dilakukannya. Segi positifnya, tindak bagus yang ditunjukkan Gabbiadini bakal jadi modal apik untuk Soton tuk menyelsaikan Premier League musim ini. Striker asal Italia telah mencetak 5 gol sejak datang saat Januari.

Marcos Rojo Blunder di Pertahanan Kiri

Rojo memberikan satu assits tuk gol yang dibuat oleh Jesse Lingard. Catatan positif pastinya buat pemain dari Argentina. Namun, hal itu diukur dengan memakai standar kontribusi tuk penyerangan. Lalu gimana dengan kontribusi Rojo mengawasi sisi kiri proteksi MU? Rojo bertanggung jawab terhadap gol Gabbiadini yang dianulir di babak pertama. Ketika itu, Rojo memberi ruang yang begitu luas buat Cedric Soares tuk masuk ke kotak pinalti dan memberi umpan silang. Untungnya gol tersebut dianulir wasit. Hal yang serupa lagi-lagi terulang ketika gol James Ward-Prowse memberi umpan crossing yang dituntaskan sebagai gol kesatu Gabbiadini.

Kemampuan assist Rojo juga tak begitu baik. Dia nampak amat kesulitan bila harus mulai membangun agresi. Alih-alih menyalurkan bola ke setiap gelandang semacam Paul Pogba serta Michael Carrick, Rojo justru kian sering menyisir medan pertempuran dan berlama-lama pada bola. Disamping itu, ia pun teledor usai menyokong serangan. Posisinya kerap lowong dan dimanfaatkan pemain Soton. Dengan keadaan seperti ini, so Jose Mourinho musti kembali memikirkan kembali siapa pemain yang sangat cocok di pos bek kiri. Mourinho telah pernah menjajal Luke Shaw, Daley Blind, dan Matteo Darmian di posisi ini. Tapi, sejauh ini tidak ada yang memperoleh kepercayaan permanen. Sebagaimana halnya yang diperoleh Antonio Valencia pos kanan.

Keroposnya Lini Tengah MU

Manchester United sungguh sukses membukukan 3 gol pada ajang final EFL Cup kontra Southampton. Tapi, bukan artinya mereka tampil dengan istimewa. Ada sebagian celah dari gaya bermain tim bimbingan Jose Mourinho. Disamping lini belakang yang keropos, dibuktikan dari kebobolan 2 gol yang terwujud. Lini tengah pun nampak kehilangan kreativitas setelah absennya salah seorang gelandang, Henrikh Mkhitaryan. Agresi yang dikerjakan MU kerap kali cuma mentok di lini tengah. Jesse Lingar serta Juan Mata yang digadang-gadang sebagai inspirasi serangan tidak mampu mengemban peran Mkhitaryan. Mata bahkan musti diganti di awal babak kedua pada Michael Carrick. Sedangkan Lingard, walau mencetak gol, ia tak mampu menjadi penyokong Zlatan Ibrahimovic dengan umpan-umpan membahayakan. Jelas saja Ibrahimovic amat merindukan sosok semacam Mkhitaryan di laga menghadapi Soton. Pasalnya, pemain berkebangsaan Armenia ini mempunyai intelegensi tinggi dalam assist. Ia memiliki pengamatan jeli tuk melihat celah kosong di penjagaan lawan.

Ibrahimovic Sebagai Permata

Kemenangan Manchester United terhadap Southampton di final EFL Cup tersebut harus diakui melalui penampilan terbaik yang ditunjukkan seorang Zlatan Ibrahimovic. Di menit ke-19, mantan penyerang AC Milan mengukir gol perdananya dengan trik istimewa. Ibrahimovic lancar mengeksekusi free kick dari jarak cukup jauh. Bola yang dia kirim ke jaring amat keras dan terukur sampai tak mampu dijangkau Fraser Forster. Sementara, menit ke-87, Ibrahimovic memperlihatkan kematangan mentalnya menjadi seorang juara. Walau mendapatkan pengawasan ketat dari pemain Southampton, pemain berumur 35 tahun ini tetap bisa mencari ruang juga menerima umpan Ander Herrera. Kepala sebagai sarana sundulan Ibrahimovic pun akhirnya sebagai penentu keunggulan MU. Baginya, semacam itu adalah ke-26 tuk MU di musim pertama. Ingat, Ibrahimovic dibeli secara status bebas transfer. Gelar jawara EFL Cup ini pun akan membuat Ibrahimovic melengkapi banyak list medali koleksinya. Pemain yang diimpor dari PSG sekarang sudah punya 30 medali juara dari seluruh kompetisi yang sempat diikutinya.

Cara Membaca Permainan Ala Pelatih Southampton

Pelatih Southampton, Claude Puel sungguh melakukan kekeliruan ketika menarik dari lapangan ke kursi cadangan Manolo Gabbiadini saat menit 83. Tapi, secara umum Puel sanggup menerapkan taktik yang baik terhadap laga final EFL Cup menghadapi Manchester United. MU kini sedang didalam penampilan terbaiknya, menjelang laga final, skuad Jose Mourinho cuma kebobolan 1 gol dari 7 laga yang dimainkan. Jelas ini memperlihatkan kekuatan MU di barisan bertahan. Namun, Puel sanggup membacanya dengan jeli. Soton sanggup mencetak 3 gol gawang David De Gea. Tapi, satu gol Gabbiadini dianulir lantaran offside. Gol sebetulnya masih bisa diperdebatkan mengingat Gabbiadini onside serta pemain Soton lain tak dalam posisi yang menyumbang pengruh permainan. Puel di babak pertama sukses menonaktifkan Juan Mata yang diinginkan jadi pengatur agresi MU. Kesuksesan ini tidak lepas dari pressing besar yang diperankan oleh pemain Soton. Oriel Romeu dan Steven Davis selaku kuncinya. Tapi, pada akhirnya Soton musti menyerah mengingat MU mempunyai skuat yang secara individu setingkat berpengalaman dan mempunyai kualitas. Baca artikel bola lainnya disini https://agenbola.io/category/berita-bola/

Leave a Reply

Your email address will not be published.